Kuambil cermin itu, lalu kuletakkan diatas kursi, sehingga jari tanganku leluasa meraba retakannya. Kurasakan itu tidak terlalu dalam alias tipis saja. Disaat tanganku masih meraba retakan ujung bawah, pandanganku beralih ke cermin, mengamati wajahku yang terpantul di cermin itu. karena agak kusam jadi kurang begitu jelas, akupun lalu menyorongkan muka ku ke arah cermin agar terlihat jelas. Ane…
Betapa kagetnya aku ketika melihat barang dagangan yang dikeluarkan nenek itu isinya adalah potongan tangan manusia, telinga, hidung, dan lain- lain. Spontan aku berteriak pada pak sopir, "Pak stop... stop... berhenti... saya turun di sini..." teriakku pada sopir. Sopir pun menghentikan angkotnya, dan tanpa pikir panjang aku bergegas langsung turun keluar dari angkot tersebut. Begitu aku …
erry sudah tidak sabar untuk menyelidiki gua gelap misterius yang ditemukannya di tepi pantai. Lalu didengarnya cerita teman-temannya bahwa gua itu berhantu. Hantu yang usianya sudah tiga ratus tahun. Hantu yang selalu muncul di kala bulan purnama. Hantu yang bergentayangan di sekitar pantai. bitu cuma cerita konyol. Iya, kan?
Melissa terbangun dan menjerit. Perampok itu ada di jendelanya... atau benarkah dia? Berita-berita utama akhir-akhir ini tentang Rampok Fear Street mengakibatkan setiap orang waswas. Sekarang ayah Melissa menyimpan pistol yang telah berisi peluru di dalam kamarnya. Itu malah membuat keadaan semakin mengerikan dan nyata. Kemudian gangguan dimulai: seseorang yang tak tampak tiba-tiba mengambil…
TENTANG SESUATU YANG AKAN DIKEMBALIKAN PADA ASALNYA Antologi Pemenang Lomba Menulis Cerpen Bersama Uda Agus (#7) Alfian N. Budiarto | Ansar Siri | Anung D'Lizta | Aswary Agansya De Eka Putrakha | Fina Lanahdiana | Gita FU | Ilham Fauzi | Izar Razhman Justang Zealotous | Ken Hanggara | Linda Tanjung | Listian Nova | Ragiel JP Lusi Anda Sudjana | Mareza Sutan Ahli Jannah | Neneng Lestari …
Rado merasa tersinggung melihat gadis itu muntah-muntah. "Kenapa kamu muntah?" tiba-tiba saja Rado mengepal tangan kanannya dan menghantam kepalan itu pada wajah Hana dengan keras. "Kenapa kamu muntah? Kamu tidak suka ya, sama aku?" Rado mengepalkan kembali tangan kanan itu dan kembali meninju Hana. Kali ini sebanyak tiga kali berturut-turut. Saat itu keluar darah segar dari hidung Hana.