Diah Hadaning, pemilik warung sastra ini acap disebut ibu penyair muda. Diah tergolong wanita penyair yang produktif sepanjang masa. Ia bertekad terus mengurus dunia kata dan karya. Ia dikenal sebagai "perempuan yang mencari" dan menemunya dalam puisi.
Buku ini menarik sekali karena mencermati bait-bait puisi dengan tema Sumpah Pemuda, tentu dari sekian goresan puisi memiliki keindahan, sasaran, dan harapan masing-masing yang menuju kepada keadaan situasi dan situasi yang lebih baik.
Kumpulan Sajak Dan cinta kita bersembunyi di ujung bahasa yang tak dilanjutkan ---------------------------------
Buku ini berisi kumpulan puisi yang ditulis oleh Puji Pistols. Bagian paling menarik dari kumpulan puisi Tokoh-Tokoh dalam Sepuluh Lompatan berada pada respons kreatif Puji Pistols dalam pengembaraan intelektualnya mereguk pengetahuan Timur seperti Tiongkok dan Jepang. Menurut pengakuannya sendiri, ketertarikannya untuk menulis puisi yang berangkat dari karya maupun kehidupan seniman dan tokoh-…
Siapakah yang berjalan sendirian. Bayang-banyang. Menyusur ribuan kenang. Aku mengingatmu. Ketika angin sasap. Senyap. Lindap dan tuhan hilang di ujung ratap. Puisi adalah peristiwa hari ini. Saya menulis segala yang saya lihat dan rasakan, baik secara lahir maupun batin. Bukan sekadar kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa agar menjadi indah. Puisi bagi sya adalah esensi.
Puisi adalah wahana dialog anatara diri sendiri dan momentum tentang perjalanan dari sebuah kehilangan hingga menemukan. Dan buku ini adalah sebuah gagasan yang bisa menjadi jembatan untuk mencapai apa saja yang bisa kita petik dari momen puiyik yang melintas, terdengar, dan direnungi.
Batu Matahari adalah puisi Octavio Paz, tapi bukan puisi dia lazimnya : sebuah puisi sepanjang 584 baris. Puisi sepanjang itu bagi mereka yang akrab dengan tradisi kultural barat akan terkenang iliad, mereka yang karab dengan tradisi kultural timur mungkin terkenang Mahabharata. Tapi bahkan puisi panjang Paz tidak mirip dengan dua contoh produk kultural itu. Ada satu kesamaan antara Iliad dan M…
Puisi membawa saya melakukan perjalanan. Meninggalkan rumah. Memasuki kota demi kota. Memahami dunia di luar diri. Memahami hal-ihwal kesedihan dan kebahagiaan. Puisi menjadi kekasih, kawan perjalanan, ibu, sekaligus guru bagi kehidupan saya. Saya menulis puisi dalam setiap perjalanan, namun hakikatnya puisi yang menuntun saya untuk memahami setiap perjalanan. Saya sering kali merasabermain-mai…
Takdir serupa dingin tiba-tiba memelukmu Kau diam serupa mangkuk cekung namun menampung segala cuaca dan kata Himpunan puisi Megatruh Nagari Kaler ini adalah paguyuban puisi dari seluruh imaji, referensi, dan hamparan pengalaman yang saya lalui. Menulis puisi tak ubahnya mendayuh dari satu pulau ke pulau lain. Ketika mengayuh iyu, angin kencang, perahu oleng, dan rasa khawatir kerap datan…
Beasiswa unggulan dari Kemendikbud RI dan fasilitas teknis dari komite buku Nasional (KBN) menjadi ihwal, sehingga residensi penulis dua bulan di Belanda (Juli dan Agustus 2017) adalah berkah bagi saya. Di negeri kincir angin itu sayatak semata melakukan riset dan napak tilas jejak Raden Saleh- sebagai peranti untuk menyelesaikan sebuah novel berlatar sejarah yang saya tulis bersama Iksaka Banu…