Aku menjemputmu! Bis tingkat menderu, polusi membasahi Ja karta. Siapa mengusik pagi dengan siulan menyayat itu? "Klaus Meine, Scorpion," katamu. Wind of Change berkumandang. Menyusuri Taman Gorky, tembok Berlin telah runtuh, katanya. Kau tahu beton itu telah rapuh sejak orang menyeberanginya demi cinta. Seperti kita. ("Album Lama: Jakarta-Bandung") Saya menemukan kekuatan puisi-prosa Rea…
Kau bilang akan ada kapal untuk kita Kau bilang akan ada biduk untuk mengayuh Kau bilang akan ada layar yang terkembang Kau bilang akan ada pelabuhan yang akan kita tuju Tapi kau hanya mampu bilang Mendayungpun engkau tak mampu Mimpi manis sudah sering kau tawarkan Kidung syahdu sudah sering kau lantunkan Tapi hanya sebatas itu lalu terhenti Karena mimpi dan kidungmu bukan saja mili…
"Ada banyak kisah yang ku rindukan Pada tiap potret kebersamaan Ada masa yang selalu ku tunggu Siap kutulis pada tiap bait aksaraku...." "Melewati arus pemikiran jurang curam Sedianya mendaki pun mengarungi celotehan tips nan lirih Dinamika tak beraturan biar sungguh susah teramat Pada tiap tapak pijak kaki bergerak... "Gema cintaku masih terus bernyawa Tak lagi mengharap hadir…
Agar kau makin menghargai Agar kau makin menyayangi Dan agar kau makin percaya Dan membuatku ada Ada di hatimu, ada di anganmu, ada di benakmu Menjadi apapun aku Dan satu dari seribu harapanku kelak Aku ingin ada di sampingmu di surga Nya Dari kutipan puisi di atas, bisa dilihat puisi Endang Winarsih sederhana tapi bermakna. Puisi dalam buku Kumpulan Puisi: Semua tentang Wanita, kar…
Kami berdekatan di stasiun bis kecil ini mengantar kepergian mereka: Bayang-bayangan itu yang tak pernah kami tahu kami tak sempat bersalam-salaman atau mengucapkan kata-kata perpisahan kami diam merekapun diam dan taksi itu dengan biasa meluncur makin jauh lalu tak kami lihat lagi mereka: bayang-bayangan ini kami: bayangan-bayangan ini makin merasakan kesendirian kami dalam bersama…
Dengan meninggalkan sejenak rutinitas, orang akan kembali menemukan dirinya sendiri, sehingga mampu menghayati kembali kesejatian dirinya dalam menjalni hidup dan berhadapan dengan fenomena yang ada di depan mata. Itulah yang dialami sebagian besar para penyair yang karyanya terhimpun dalam buku ini.
"What a pleasure to see Laksmi Pamuritjake proem and prose texts in one generous volume that bears witness to her versatility and dexterity in both thos genres long before her name became internationally known for her splendid first novel. Her multivocal stories intertwine with the lush, layered textans of art and music and her elliptical, deft poems observe with a clear eye the cityscapes of o…
Puisi setidaknya merupakan sebuah ungkapan jiwa, rasa, pengalaman dan keinginan atau hasil perenungan serta segala hal yang terkait dengan emosi menusia yang dituangkan dalam bentuk kalimat indah sarat makna. Buku berjudul "Si Covid-19" ini merupakan buku antologi puisi yang berisi sejuta harapan,suara jiwa serta pengalaman dan perenungan para guru dan pegawai di madrasah mulai jenjang MI, MTs,…
Buku "Antologi Puisi Pelangi di Kala Pandemi" adalah karya guru MTs dan MA dari berbaai kabupaten di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Tercatat ada 13 guru yang tertantang untuk Mengabadikan karya mereka dalam buku ini dengan 65 judul puisi yang beragam baik isi maupun gaya penulisannya masing-masing. Puisi-puisi mereka sangat menyetuh hati juga menginspirasi. Seperti apa puisi-puisi mere…
Pesan Lelaki Badai kepada rembulan ia tulis sajak langit, dalam lengkung bulan sabit, Jejak Lelaki Badai sanggup menerjang ombak lautan, menghantam karang terjal, kidung puja sucinya mengalir, bersenandung menembus ruang dan waktu. Tak perlu sambu lilin tuk nyalakan jiwa sebab lentera hatimu telah terangi setapak, merentang benak dekatkan jarak.